‘bahasa
huruf huruf menggumpal di dalam tumpukan frasa yang lapuk. bahasa berbagi cerita dengan cara yang tak biasa. nama nama kembali tampil dalam repertoar herry sutresna. huruf menerka nerka bahasa di abad yang berlari. bahasa itu menyelami puisi kontemporer yang tengah eksis dikalangan pelukis alis.
apa kabar gm, jokpin, mahmour darwish, kafka, dan malna. pram terbirit menghadiri pesta retorika. sapardi menyusuri patgulipat makna dalam ode yang sengsara. liris feminis jempalitan dibawah gaun toety heraty.
masih sama bergelut dengan huruf huruf yang bijaksana. frasa yang diperdaya oleh nestapa dan euforia. firman tuhan terjaga dalam sepertiga pijar mata bunda. setiap doanya terselip untaian kata yang beririsan dengan harga harga, hidup sejahtera, dan demokrasi yang sehat.
biar bahasa berdiri diatas kakinya sendiri. satu kaki tanpa dipengaruhi zaman yang nggilani. bahasa akan pulang pada kata kata. kata kata akan kembali di haribaan huruf yang berbudaya. dua puluh enam alphabet yang lazim. aku berupaya memungut kata, frasa, dan bait yang berserakan di dasar kerat kerat keputusasaan. namun yang tanggal hanya doa yang tak diamini oleh zaman.