Demi Masa : Catatan Nostalgia dalam Balutan Rima Berandal
Tahun 2018 menjadi tahun yang cukup memekakkan bagi sebagian orang, sekaligus menggembirakan bagi sebagian lainnya. Banyak media berpretensi menjadi corong informasi perihal kotak suara, elektabilitas, afiliasi politik, pencitraan, dan pelbagai hal lain yang memuakkan. Sebuah panggung dramaturgi politik masif dimainkan pada senjakala tahun itu. Banyak seniman yang turut tanggap dan urun tangan dalam menyikap persoalan ini. Sebagian hadir dengan karya-karya terbarunya, sebagian pula turut mengkritik dengan malu-malu dibalik cuitan sarkasme dan tak berarah. Namun, dari sudut terpinggirkan, dengan tangan dingin sang maestro, seluruh memori tersebut lantas ditangkap dalam larik rima sakralis, oleh pelopor hip hop tanah air cum penulis asal Kota Kembang, Morgue Vanguard (MV) aka Ucok “Homicide” aka Herry Sutresna, beserta MC kenamaan asal ibukota Doyz, melalui persembahan album Demi Masa (2018).
Demi Masa bukan sebatas repertoar musik belaka, ia lebih dari itu. Sebuah memoar tentang suara-suara para kaum marginal dari sisi yang terabaikan. Tak bisa dimungkiri, MV yang memegang peran krusial dalam dapur penulisan lirik dan isian musik, menyajikan baris rima yang tak hanya keras dan menyalak, namun juga bertabur dengan bunyi-bunyian estetis ala boombap 90-an. Sanjungan dan apresiasi juga tak kurang dilontarkan kepada Doyz, yang juga memiliki andil besar atas lahirnya Demi Masa. Bisa dibayangkan bagaimana melegakannya, ketika album ini dapat hadir dari tangan kedua epitome musik protes tanah air, di tengah kebisingan politik dan dahaga hip hop berkualitas kala itu.
Lantas hasilnya?…
***
Setelah ini, akan saya bagikan rima-rima binal, yang bertandem pada album Demi Masa.
Junta Titimangsa
Melekat birama di medan martil dan gada/ Sepekat aroma kemenyan memanggil arwah Durma/ Resonansi azimat penyair Ya’umudin/ Rima nekromansi hasrat Munir dan Udin/ Kohesi integral dua unsur optima/ Kompresi koronal kawah pemancur bisa/.
Sebagai track pembuka, MV dan Doyz menempatkan Junta Titimangsa sebagai alinea pertama dari kitab Demi Masa. Impresi pertama ketika lagu ini terputar dalam gawai, sudah barang tentu sekujur tubuh tak kuasa menahan gerak laju birama yang dilantunkan oleh keduanya. Musik yang lebih ramah di telinga, namun tetap tak menanggalkan marwah MV sebagai Ucok “Homicide” dengan barisan lirik sarkastik, nyeni, dan mengawang.
Selesai dengan Junta Titimangsa, perjalanan album Demi Masa masih panjang. Deretan nomor “all killer, no filler” menunggu giliran.
Breakdawn
Esok akan terlalu terlambat, di depan tengat yang merambat/ Waktu tak pernah berhenti meski jumudmu merapat/ Meski hasratmu sekarat dan kehabisan kerabat/ Meski terbaca gelagat penamu mulai berkarat/ Teruskan zaman beramanat/ melontar bait granat yang memberi marka pada almanak/ Yang mencatat kalam tandingan dengungan lalat/ Eh yo Doyz! Beri rentang kurun waktu ini bait perahmat/.
CSDB FM
Pada nomor ini, MV mencoba melintasi waktu. Penggalan kisah nostalgic turut serta menghiasi rima-rima yang lugas. Secara tersirat MV menarik kembali para pendengar untuk merasakan peristiwa lampau yang mungkin kerap kali mereka saksikan. Ost Catatan si Boy, iklan Termorex, dan berbagai rentetan peristiwa lainnya. Pun tak kalah klasik, MV dan Doyz turut menggandeng Iwa K. Sumbangsih nada-nada ceria nan eksotis ala Iwa K turut dihadirkan di lagu ini.
Komando sentral rima baja kelana/ Usung penanda germo-raja berdansa seirama/ Menata kata-kata perajah menara bala setara/ Pengontrol para domba yang elit menggembala/.
Testament
…Serupa preman delapanpuluhan yang bertahan di era Petrus/ rap membawa dupa berkawan/ Dengan harkat bertamengkan hasrat/ berkalang sebarisan penjaga nalar dan waras/…
Di Hadapan Babylon
Bagi barisan mereka yang bersatu pada/ Malam yang kelabu tempat nasib kan beradu/ Takkan mati jadi dadu di hadapan serdadu/ Invasi kolosal operasi terpadu/ Mangsa keadaan rezim masa perampasan angkat kesadaran meski depan/ Kekalahan babat di hadapan,/ Barisan sombong muka doa pagi dua jari untuk Poro Duka/.
Seperti halnya pada track “Di hadapan Babylon”, MV dan Doyz bertamukan Rand Slam kembali beradu rima berandal. Setumpuk lirik padat secara runtut dilempar secara berkala. Ketiganya saling bersahutan bak kepodang yang keluar dari sarang di pagi hari. Semangat, ambisi, dan dedikasi secara gamblang direpresentasikan pada nomor kali ini.
Buckshot Funk
MV x Doyz, mempersembahkan Mr. EP dan Sarkasz. Empat punggawa hip hop kenamaan tanah air, bertandem dalam satu lagu. Secara beringas, mereka saling menimpali dengan arsenal masing-masing. Litt!
Los Barrio Pobres y Barras de Muerto/ manifestó Neraka Jahanam macam Duo Kribo/ menyambut kombo acid inferno Ricky Kasso/ dan legacy epik macam Deddy Stanzah dan Cikaso/.
Check Your People
Pesta belum usai. Satu track yang berhasil merongrong masuk dalam berisik suara otak, dan turut singgah cukup lama. Nomor berdurasi empat menit empat puluh tujuh detik, bertajuk “Check Your People”, menyoal perihal almanak kasus-kasus konflik politik agraria di Indonesia dalam catatan sejarah. Morgue vanguard bersimpul tangan bersama Doyz, menjabarkan secara terperinci perihal cacat sistem pemerintahan feodal dan buruknya gelagat imperialis lokal. Sederet lirik diramu dalam balutan amunisi rima yang menghujam seluruh yang batil. Dentuman suara MV dan Doyz, seolah membersamai suara para proletar yang tanahnya diambil paksa oleh mafia.
Tinju di angkasa, Untuk mereka yang sagunya tergantikan sawit di papua/ Untuk mereka yang terhimpit tambang liar di Bone, Sinai, hingga Gowa/ Masyarakat adat, Petani Langkat, Mereka yang mempertahankan konservasi di Teluk Benoa, hingga mereka yang dihujani serbuan bulldozer di ibukota../ Satu cinta/.
Demi Masa
Demi setiap doa pada setiap Kamisan/ Tak semua kepergian harus diiringi tangisan/ Janji kami merekam zaman hingga waras penghabisan/ Serupa nyala Ginan dan pijaran bara Sebastian/.
***
(Angkat kepal diangkasa)
Keep it real!
Kabarkan!
Catatan : Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Majalah XXX LPM Kentingan UNS 2023