Marka, Mbah Solo, dan Raya yang Tak Lagi Sama
Pagi hari, selepas subuh, udara khas Tawangmangu merangsek masuk ke sela-sela kusen penginapan. Kawan-kawan plus saya, masih bergelut dengan kasur dan selimut kala itu. Kami tertidur dalam satu ruangan yang sama, sebab tengah menjalani kegiatan sebagai panitia diklat luar ruang. Acara tahunan yang digelar LPM Kentingan UNS guna menutup Masa Rekrutmen Anggota (MARKA). Saya sendiri mengisi bagian cukup sentral bagi pondasi menjalani hari para peserta dan panitia, yakni divisi konsumsi.
Penginapan kami tak jauh di bawah Bukit Paralayang, tepat di sisi barat gerbang masuk ke destinasi jempolan warga Karanganyar itu. Seperti pertemuan organisasi kampus pada umumnya, malam kami habiskan untuk bercokol dan berbagi basa basi. Musabab hal ini, niat menyusuri Bukit Paralayang ketika jelang fajar urung seketika. Saya berakhir terlelap hingga matahari muncul.
Diri saya saat itu tak akan menyadari bahwa keputusan untuk enggan bangun di pagi hari adalah keputusan besar yang saya ambil.
...
Dering yang kesekian belas, berhasil membangunkan nyenyak saya. Tak ada pikir panjang mengapa jumlah panggilan tak terjawab lebih dari hitungan jari. Hingga panggilan terakhir, saya tak sempat mengangkatnya juga.
Dengan penglihatan yang kabur, saya membaca deretan pesan dari bapak. Pandangan saya langsung menuju ke bubble terakhir. Pesannya singkat namun mengguncang, "Lhe, Mbah Solo meninggal"
Sontak saya tercekat. Bapak segera saya hubungi kembali untuk mengkonfirmasi kabar tersebut. Nada lirih menggerenjal di dada saya. Seperti saat ketika bapak mengabari berita duka yang lalu-lalu.
Sesaat setelah telepon terputus, tanpa pikir panjang saya berbenah. Entah alat mandi maupun kaos yang letaknya dekat dengan tas saya, segera masuk kedalam. Sejumlah genggaman saya raih, doa-doa dan ucapan duka saya aminkan, saya berpamitan.
Adi (22) sobat karib saya, tanpa memunculkan raut gelisah di wajah, dengan mantap segera memberi tumpangan menuju terminal. Perjalanan yang normalnya ditempuh 45 menit, dilibas dengan kurang dari 30 menit. Maklum, tiap bulannya ia menyusuri Solo-Pacitan untuk bertemu tersayang, jadi memang sudah ahlinya.
Tangan Adi saya jabat dengan erat setelah menginjak pelataran terminal. Tak ada kata selain "nuwun" yang terucap dari bibir. Saya masuk ke dalam bus tua jurusan Solo-Tawangmangu.
Tak pernah terbesit sebelumnya, pengalaman pertama berada di kursi bus jurusan ini-seorang diri-adalah ketika hari di mana kakek saya tiada. Sepanjang jalan, saya kebingungan untuk mencerna perasaan yang ada dalam benak. Serba kabur dan mengganjal. Perjalanan itu menjadi kilas balik saya melihat rekaman kisah yang pernah terjalin dengan kakek.
...
Bapak saya adalah seorang yatim sejak usia belia. Kakek pertama saya meninggal ketika bapak berusia sangat kecil, bahkan untuk mengingat wajahnya bapak juga samar. Baru setelah remaja bapak merasakan kembali kehadiran sosok ayah, yakni Kakek alias Mbah Solo. Beliaulah yang menjadi wali bapak ketika mempersunting ibu.
Sejatinya saya tak terlalu mengenal Mbah Solo. Kami hanya bertemu ketika hari-hari penting keluarga maupun negara. Seperti lebaran atau nikahan sanak saudara. Cerita dan kabar tentangnya lebih banyak saya dengar dari bapak.
Bapak sendiri juga sudah banyak disibukkan dengan tanggung jawabnya. Sehingga moda komunikasi antara kami dan Mbah Solo seringkali hanya dari pesan instan dan telepon seluler.
Dewasa ini, saya semakin memahami bahwa tanggung jawab moral seorang bapak untuk memberi afeksi jalinan komunikasi interpersonal dengan keluarga besar tak seharusnya dibebankan sendiri kepadanya. Inisiatif diri untuk berkunjung dan memulai percakapan dengan keluarga jauh, perlu ditumbuhkan dari diri saya. Sebatas menanyakan kabar melalui japri, saya rasa sudah cukup melegitimasi keberadaan “keluarga” itu sendiri. Meski sulit, tapi perlu.
Sadar akan hal itu, kami selalu memanfaatkan setiap pertemuan dengan Mbah Solo sebaik mungkin. Kami sendiri merujuk pada Saya, Adik, Ibu, dan Bapak. Ketika kami bertemu kakek di rumah petak kecil di daerah Singosaren. Satu hal yang melekat darinya adalah celana cutbray yang ia kenakan bersama nenek dalam bingkai foto jadul. Ia terlihat necis dengan setelan kemeja abu-abu dan rambut klimis. Tubuhnya jangkung sekitar 175an. Matanya sipit dengan lengkung senyum khas, juga gigi ompong di atas kanan.
Setahun setelah kepergiannya, saya mencoba menyatukan kembali ingatan tentang kegiatan yang sempat kami jalani. Dan lebaran menjadi satu kegiatan yang tersusun rapi di baris ingat saya. Entah beliau yang tiba-tiba hadir di pelataran rumah kami dengan Yamaha Alfa tua dicat oranye, sekitar sore hari ba'da sholat ied. Atau juga kami yang menghampiri Kakek dan Nenek, beberapa hari setelahnya.
Setahun setelahnya pula, saya menyadari ada perasaan berbeda ketika kali pertama prosesi sungkem tanpa menggenggam tangan beliau di hari raya. Seolah tak jangkap. Hari tetap terus berjalan tapi kurang sempurna.
Dan nampaknya, raya-raya seperti itu akan saya rasakan di beberapa tahun mendatang. Bertemali pula dengan sesal atas keputusan untuk kembali terlelap di pagi itu tiba. Al Fatihah.
*Tentang dan untuk Mbah Solo, terima kasih sekaligus maaf.