Mendangdutkan Isi Kepala : Detak Budaya Populer dalam Rancaknya Tabuhan Kendang
“Dari sudut FISIP di bilangan Kentingan, Jebres, Surakarta, dengan rancak kendang itu bertabuh.”
Selasar kantin yang kerap disapa Kantin Bu Yuni itu, kembali menggugah secercah memori saya tentang karya populis yang tak lekang oleh waktu. Musik dangdut. Suasana riuh dan menggelegar di kantin itu, terus saja mengganggu tidur siang saya yang riang. Namun satu ketika dari ujung kursi kayu panjang, samar-samar terdengar suara sobat karib saya (sebut saja aroon) menyetel video dengan volume menukik beriringan serta dengan lengkingan suara biduan. Saya dipaksa terbangun dari tidur, dan bergegas menengok pemandangan yang cukup anomali. Bukan apa, hal ini musabab kawan saya yang kalo dikata sekarang, lekat dengan istilah “anak skena” dengan bangganya menyaksikan video cover dangdut lengkap beserta kepala kedut-kedut dan mimik wajah sedap. Saya yang terhanyut dengan lantunan itu seraya larut dalam tiap senggakan dan tabuhan kendang. Episode tersebut yakni tembang “Wirang” yang dibawakan kembali oleh Niken Salindry pada kanal Youtube “Aneka Safari Records”.
Sejatinya bukan barang baru dangdut ini langgeng dengan industri yang semakin masif dan padat karya. Dari gang-gang kecil di sudut Kota Sukoharjo hingga kelab-kelab besar di Senopati, dangdut telah menjelma menjadi suatu komoditi yang tak lagi remeh. Juragan beras di desa-desa hingga pejabat karbitan saja masih memilih dangdut sebagai hiburan teruntuk para tamu undangannya (terkecuali yang memang golongan meng-elit-kan diri). Bisa dibilang pula dangdut dapat bertahan hingga lintas generasi. Dari keyword video dance cover “Mendung tanpo udan” di Tiktok saja kita sudah dapat melihat bocil-bocil tampil dengan dandanan nyentrik supaya dapat terus tampil di algoritma (istilah sekarang FYP). Belum lagi militan fans yang berjibun dari grup NDX aka, Guyon Waton, OM Wawes atau solois layaknya Gilga Sahid, Niken Salindry, Arlida Putri, Nella Kharisma, dan masih banyak nama lainnya. Dari situ dapat kita tengok bahwasanya dangdut telah bermetamorfosa menjadi sebuah kultur pop yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Dangdut layak mendapatkan atensi dari berbagai perspektif untuk menengok dampak dangdut yang meledak di industri saat ini.
Dangdut yang Lekat dengan Memori
Kembali menyoal dangdut dan sebuah memori. Entah seperti kembali menyusuri memori lama, saya seolah ditarik kembali ke zaman ketika Guyon Waton masih membawakan “Korban Janji” di awal panggung mereka, atau Denny Caknan dengan “Kartonyono”-nya. Sekelebat ingatan itu seolah kembali menggugah berahi saya dengan musik dangdut itu sendiri. Bisa dibilang, momen puncak saya menikmati genre musik ini adalah ketika saya duduk di bangku SMA. Saking niatnya saya membentuk orkes kecil-kecilan yang sempat mendapat panggung di beberapa warung daerah kota saya, Sukoharjo. Jujur di masa itu dangdut bukan sebatas musik gembira yang tampil di acara-acara penting kampung, pernikahan remaja desa, atau kampanye caleg kabupaten. Lebih dari itu, dangdut menjadi gaya hidup yang merebak di kalangan remaja nanggung dengan persoalan berupa putus cinta kali pertama. Nomor-nomor seperti “Korban Janji”, “Kartonyono Medot Janji”, “Balungan kere”, “Pingal”, hingga “Menepi” seolah menjadi backsound favorit untuk story Whatsapp muda mudi di kabupaten bahkan hingga nasional. Fenomena tersebut semakin menjalar dengan mulai dimanfaatkannya fitur tambahkan musik di platform Instagram mau pun Tiktok. Komodifikasi tersebut langgeng hingga dewasa ini.
Bagi saya yang notabene warga dusun, dangdut begitu sentimentil. Ia menjadi suatu momentum yang terus lekat dengan ingatan masa ke masa. Bagaimana tidak? Hampir di setiap hari-hari besar di kampung, dangdut menjadi opsi wajib untuk disajikan kepada seluruh warga. Saya kasih beberapa contoh. Misalnya ketika anak pak lurah sunatan, yang diundang minimal Orkes Melayu tier kabupaten-kota lengkap dengan MC dan sinden-sindennya. Atau bila ingin lebih praktis biasanya acara muda-mudi hanya mengandalkan Organ Tunggal beserta 2 penyanyi. Kalo yang lebih megah lagi biasanya acara Malam Tirakatan. Hal ini dikarenakan Malam Tirakatan adalah malam penting bagi setiap warga desa untuk dapat bercokol dalam kurun waktu setahun sekali dan merayakan hari kelahiran bangsa. Seluruh model warga–seperti RT, RW, dokter, guru, kang becak, kang mancing–turut serta urun rembug (membagikan pandangan) dan logistik untuk dapat memeriahkan acara Malam Tirakatan itu sendiri tanpa adanya pembedaan kelas sosial. Hampir jarang Malam Tirakatan absen dengan konser dangdut-nya. Palingan ketika pembatasan sewaktu merebaknya COVID-19 dahulu, itu saja sempat ada wacana mengadakan pertemuan dan konser via Zoom. Memang militan dangdut ini bukan entitas yang dapat dianggap remeh.
Geliat Industri Dangdut
Bila dapat kita tengok, industri dangdut-khususnya koplo-mulai meledak di pasaran ketika tahun 2015-an lalu. Ditandai dengan bus-bus antarkota dengan bangganya menampilkan nomor-nomor koplo dari OM Moneta, OM Sera, dan banyak lainnya. Laporan tersebut saya culik dari kegelisahan Mahfud Ikhwan–biasa disapa Cak Mahfud–tentang mulai terkikisnya semangat dangdut era 80-90an yang mendayu dan mengutamakan kemasyuran teknik suara penyanyinya—bukan sebatas goyang pinggul dan rancak kendang—seperti di era saat ini. Dalam artikel “Kepikiran Dangdut (Koplo): Renungan di Bus Antarkota” selama kurang lebih 4 bagian, Cak Mahfud mengupas habis kegamangannya terhadap musik dangdut koplo. Ia menegaskan tentang alasan mengapa penghayat dangdut lawas tak sepenuhnya dapat membenci dangdut koplo.
Dapat kita sadari bahwasanya diskusi perihal dangdut telah masif bahkan sejak zaman dahulu. Banyak penulis di skripsi hingga jurnal-jurnalnya membedah perihal diskursus dangdut dari pelbagai perspektif dan teori. Weintraub, salah seorang profesor asal Paman Sam dengan cinta-nya meneliti dangdut di tahun 2010 lalu hingga dapat menelurkan karya bertajuk Dangdut Stories. Bahkan dedikasinya terhadap dangdut, sampai-sampai ia membentuk grup musik bernama “Dangdut Cowboy” yang tampil di beberapa panggung di Washington, Amerika Serikat. Belum lagi penulis layaknya Cak Mahfud tadi, yang dengan terampil mengkonstruksi dangdut kedalam tulisan-tulisan yang ciamik. Buku terbaru Cak Mahfud “Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop lainnya” menjadi satu wujud kecintaannya. terhadap Dangdut.
Dangdut dalam Episode Mematahkan Sekat Sosial
Masih ingatkah kalian, ketika kali pertama Farel Prayoga yang diundang dalam pagelaran akbar di Istana Negara silam, untuk menyanyikan tembang “Ojo dibandingke” dan disaksikan RI 1 dan jutaan pasang mata. Dari situ bisa kita lihat jikalau dangdut telah dinikmati oleh kalangan pusat, A1. Hal itu pula yang menjadikan Cak Mahfud memantapkan diri menulis buku terbarunya “Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop lainnya”. Kita tengok pulau Nasida Ria dengan bangganya menggebrak panggung luar negeri melalui musik dangdut dengan pesan perdamaian (yang terbaru festival seni Documenta Fifteen di Kassel, Jerman 2022 silam). Bahkan kelab-kelab di sudut Senopati yang kerap disapa “Senoparty” itu dengan bangga pula me-remix lagu-lagu dangdut yang bernuansa romansa bertepuk sebelah tangan.
Bukan barang baru dangdut menjadi konsumsi berbagai kelas. Dangdut berhasil bertahan dari stigma “musik tai anjing” yang dilontarkan Benny Subardja (lihat Weintraub, 2010: Ikhwan, 2016) di awal kemunculannya. Sampai di titik ini, dangdut terus bergeliat dan menangkap fluktuasi zaman. Memori-memori tentang dangdut akan terus diterima zaman, sebagai suatu budaya pop yang terjangkau untuk diselenggarakan begitu pula diakses khalayak. Bukan saja dangdut akan terus hidup di spiker bus-bus antar kota atau gelaran-gelaran kampung. Lebih jauh lagi dangdut akan menggelegar di acara diplomasi antara dua negara. Sungguh suatu puncak kemasyuran genre musik.
….
Dangdut akan selalu hadir di setiap segmen polemik maupun kemeriahan yang terjadi di dalam negeri ini. Biarlah dangdut (koplo) tetap tampil dengan keriangannya (monoekspresi kalau kata Cak Mahfud). Janganlah diusik dengan eksploitasi dan komodifikasi oleh pejabat penghamba suara rakyat itu. Biarlah dangdut terus hidup dalam segenap napas warga yang beraktivitas dengan sebagaimana mestinya. Jangan banyak dicampuri urusan politis yang tak kunjung sirna. Hidup sudah menusuk hati, biarkan kendang yang turut mengatasi. Viva la, Dangdut mania!
Catatan : Tulisan ini sebelumnya sudah pernah diterbitkan di laman saluransebelas.com dan termasuk ke dalam artikel Majalah kentingan XXXI 2024.