‘setengah lima di ujung desember
Desember bergumul di hari minggu itu. Berkelindan dia dibawah riang-riang yang bergelantungan. Sumpah serapah hari hari yang lelah telah dedah. Sore yang tegak lurus merindukan Januari yang menuntut reformasi. Sekadar mengingatkan, ratusan malam telah kita amini. Bukan sekadar riuh redam, dan euforia kemenangan yang telah terlintas. Renjana di palung parit-parit itu turut bergumam. Seraya melegitimasi para milisi burjo amora.
Ah. Sore apakah dia. Yang kita saja tak biasa dengan perasaan itu. Sore koheren dengan nafsu yang belum tuntas. Urung menjalani banal yang telah disetujui diawal. Lantas patah arang tak jadi opsi. Turba ke persinggahan para wal(h)i.
Desember (tahun) lalu aku meraba-raba Memorandum milik Perunggu. Pun Menggerayangi Celana Jokpin. Selang sekian SKS, bercumbu dengan Demi Masa (magnum opus si Lord Kobra itu). Tak ayal Pengantar Purifikasi Pikir berperan aktif menjentik kelambu sunyi. Berakhir mengelucuti Museum Penghancur Dokumen dengan binal.
Menghujam liris puisi itu dalam benak:
“Desember, Desember, penggaris yang kesunyian dalam kesunyian”.
-Penggaris Desember.
mati suri di tamannn. Setengah Lima. Sore.